Wahai angin
Tahukah dikau
Bahwa teduh memancarkan
cahaya redup yang menyusup
di gelas kaca di waktu ashar
Mengalahkan wangi
Aroma cahaya dan bunga melati
Yang pernah berkembang
Liar di tanah hati
Sewaktu musim hujan itu
Kuingat wangi dan intensitas
Dari cahaya terang menerobos
kaca jendela di waktu dhuha
Menyisakan sesak membakar
Yang kelak akan kusyukuri
Bunga yang mati
Di tanah rindu yang menyubur
Tahukah dikau
Wahai angin
Bahwa mati menuntunnya
ke keabadian?
Ia tumbuh dalam sepi
Ia tumbang dalam sepi
Kamis, 16 Juni 2016
Angin
Langganan:
Komentar (Atom)