Jika Anda mendengar pekikan "pilothok" (Pillowtalk, Zayn Malik) diikuti dengan aransemen acapella aneh dan tidak jelas dari salah satu lagu Coldplay di siang hari sekitar kebun dan persawahan Sumberdalem, Kretek, Wonosobo, 30 April 2016 lalu, maka Anda jelas telah mendengar yel-yel sangga kami, Sangga Sam Ratulangi dalam acara Kemah Bhakti Satria Smansa. Keanehan dan kekurangjelasan yang kami bawa telah menghantarkan predikat Sangga Putra Tergiat. Dalam hal ini, kredibilitas dewan ambalan dan panitia nampaknya patut untuk dipertanyakan. :-)
***
Truk berbak logam yang jelas sudah berpengalaman mengangkut berbagai jenis barang dan makhluk itu mengantarkan kami ke bumi perkemahan (lapangan) di Sambon, Sumberdalem, Kretek. Upacara pembukaan menandakan acara kemah dua hari semalam ini dimulai. Masa depan tampak abstrak saat itu. Aku antusias.
Sebenarnya aku bukanlah aktivis ataupun 'anak pramuka', aku belum (atau tidak) hafal Dasadharma, pramuka masih berupa cahaya redup di pikiran. Perkemahan pramuka bukanlah hal baru untukku. Yang terpenting dari kegiatan semacam ini adalah pengalaman dan makna yang dapat diambil. Maka dari itu, pramuka mendapatkan ruang tersendiri dalam diriku.
Acara setelah upacara adalah bakti sosial. Kami diwajibkan mengantarkan paket bahan makanan untuk disumbangkan kepada seseorang yang namanya telah tercantum pada paket di sekitar lokasi kemah. Berikutnya istirahat dan dilanjutkan pentas seni antar kelas pada sore harinya.
Anggota tidak tahu, dewan tidak tahu, pembina tidak tahu, bahwa angin sepoi yang membelai waktu kami pentas sore itu membawa dinding-dinding awan jenuh yang menguji kesiapan kami. Air, keluhan, hingga sumpah serapah membanjiri lapangan. Cuaca seakan bersengkongkol, terik matahari membakar dalam scout touring keesokan harinya menemani kami melaksanakan tugas dan meneriakkan yel-yel macam mantra aneh.
***
Setelah pentas seni, hujan menggiring sore, membolak-balik rencana, mempercepat waktu istirahat kami. Istirahatku malam itu diawali dengan beberapa seruput kopi susu, membayangkan kafein yang tidak mempan dan seperti apa kegiatan scout touring esok hari. Suara gurauan teman-teman yang mewarnai malam seakan aku acuhkan. Aku tidak tahu dan terlelap begitu saja.
Dini hari. Api itu membakar kayu dan ranting, mengalir indah melantunkan cahaya, kehangatan, dan asap putih yang menari lembut itu lalu bersenyawa dengan merdunya paduan suara. Sejenak aku bercumbu dengan mereka. Aku berpikir, tidak akan ada cahaya, kehangatan, dan asap putih yang menari lembut itu tanpa lumatnya kayu dan ranting oleh api. Bulan seakan-akan malu melihat tingkah kami, berkali-kali ia timbul tenggelam di antara awan. Ini sama sekali bukan penderitaan, ini kejadian tidak sesuai dugaan dengan keajaiban kecil, dengan tiga poros asmara yang misterius. Api menghamburkannya.
***
Ah oah oah
Kami Sam Ratulangi
So high, so high
....
Yang aku tahu, kami hanya bersemangat saat yel-yel itu. Mantra-mantra magis itu menyaru dengan dengung serangga yang tidak sabar menyambut pergantian musim , membangkitkan api semangat, tidak tanggung-tanggung sampai kami tidak melakukan merayap di lumpur di pos terakhir karena kami terlalu cepat dan pos belum jadi, kami menyebutnya "jalan suci". Rapalan mantra acapella itu benar-benar ajaib. Ia meluruhkan terik, menyatukan semangat, membuat dahi beberapa dewan mengrenyit. Mungkin ini juga yang membuat kami mendapat piagam bertahtakan bingkai kayu dan kaca yang dipredikatkan setelah upacara penutup itu, entahlah.
***
Kegiatan Kemah Bhakti berakhir, ditutup bacaan hamdalah. Aku pulang dengan truk yang sama seperti saat berangkat. Gerimis sempat membasahi bagian atas tubuh ini, segar. Kegiatan ini menjadi pengingat. Seringkali aku tenggelam dalam kecongkaan, penyesalan, dan kekaguman sekaligus. Terseret dalam arus tak tentu di bumi perkemahan ini. Emosiku tidak berdaya, egoku menciut. Lalu Tuhan membuka hijab hikmahnya. Menarik kembali semangatku dari dalam arus itu.
Aku menikmati indahnya berbagi, bersyukur, menyadari bahwa aku masih beruntung dan ada orang yang berjuang dan menggantungkan hidup pada teknologi tradisional tanpa kenal lelah, aku terharu melihat Pak Patenan berterimakasih dan sedikit mengadukan nasibnya saat kami temui di bakti sosial. Aku bersemangat dan rela menggali parit dengan sendok. Berjalan di antara pematang dan terik bukanlah halangan. Aku membiarkan tawaku lepas, berjingkrak, dan menari bersama teman-teman. Aku membiarkan jiwa ini hanyut larut.
Aku menyesal belum dapat memberi lebih untuk teman-temanku, kontribusi untuk gudep SMA ku, dan bakti nyata untuk negeri ini. Nyatanya, kami begitu kecil, sombong, dan biang keladi keluhan-keluhan tidak penting yang terdengar di antara bidang berumput itu sejak pagi kami di sana.
Aku yakin Allah akan membalas setiap cucuran keringat, luka, dan hembusan nafas dari mereka yang peduli dan bekerja keras untuk semua ini.
***
Sandi Ambalan Chandradimuka
Tegak menapak mencakar buana
Berdiri di muka bumi tiada kenal jera
Bagai pilar-pilar baja menyangga angkasa
Gunung menjulang bukan halangan
Jurang menerjang bukan pepalang
Badai topan tak hendak putuskan cita
Walau ombak menerjang pecahkan karang
Maruta menghapus segala yang ada
Asa tak hendak pupus, bagai asap dupa ditelan cakrawala
Hati tetapkan teguh, seteguh cahaya permata
Kehormatan itu suci
Kaya atau melarat adalah keadaan lahir
Janganlah melukai hati sesama
Lebih baik mati dengan hormat, daripada hidup dengan nista
Sabda pandita ratu,
Manusia adalah manusia
Menjunjung tinggi Angsal Kehormatan Chandradimuka:
'Berkarya, berbakti, membina nusa dan bangsa'
*Tribute for Dewan Ambalan Gudep SMA 1 Wonosobo*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar