Aku terbangun akibat keributan kecil di luar tenda, entah mata tidak mau kembali terpejam setelah 2 jam tertidur di tengah kesunyian malam terang bulan. Malam itu begitu syahdu, kata-kata kotor yang beberapa kali terdengar keluar dari mulut kami bagiku tidak mengurangi kesyahduannya. Kabut beberapa kali timbul melingkupi udara dingin di tepi telaga ini. Beruntung aku masih bisa menikmati suasana sepi ini, yang mungkin akan mulai lenyap beberapa bulan atau tahun lagi.
Malam ini aku melupakan sejenak perjuangan kami ke tempat tersembunyi ini. Cahaya bulan menyibak kegelapan, mulai turun ke ufuk barat, memanjangkan bayangan pepohonan di bukit yang membentengi telaga. Paginya, keindahan yang terlihat lebih spektakuler, ajaib! Aku suka kesunyiannya, cahaya lembut itu, pepohonan, refleksi langit dari telaga, awan-awan tipis, dan nyanyian alam. Aku membuka mata, pendengaran, dan pikiran. Mencoba memahami peristiwa ini.
Apa yang kami lakukan di sini, apakah mencerminkan tindakan yang baik atau cuma baik untuk kami? Kami hanya pemeras alam yang tidak tahu diri. Mengagung-agungkan kekuatan penaklukan alam yang tolol dengan alasan mencari kepuasan batin dan "jati diri". Demi itu, demi surga sunyi yang tersembunyi ini, apakah setelah kami mencapainya kami mencampakkan semua ini begitu saja? Bahkan tanpa menengok ke belakang, tanpa memperhatikan ketulusan alam ini, untuk kita dan generasi mendatang.
Seperti biasa, ini yang aku temukan jika mengikuti kegiatan buta semacan ini, karakter setiap orangnnya akan terbuka lebar. Aku membacanya, ya, jelas sekali. Tidak perlulah aku tulis di sini secara mendetail. Apa yang aku duga tidak terbukti begitu saja, berbeda sama sekali. Kali ini aku mulai muak dengan kegiatan seperti ini. Jika dilakukan dengan tidak bijak, masa bodoh. Aku besyukur, kali ini pengorbananku membuahkan hasil yang manis sekaligus getir.